oleh Dr. Zainabur Rahmah
Kebutuhan akan produk halal semakin mendesak seiring dengan meningkatnya kesadaran konsumen Muslim di seluruh dunia. Dalam konteks globalisasi dan industrialisasi pangan, kosmetik, serta farmasi, deteksi bahan haram menjadi tantangan besar karena kompleksitas rantai pasok dan proses produksi. Oleh sebab itu, pendekatan ilmiah berbasis biomolekuler menjadi solusi untuk menjamin kehalalan suatu produk secara lebih akurat, cepat, dan objektif.
Peran Biomarker dalam Deteksi Halal
Biomarker adalah indikator biologis yang bisa menunjukkan keberadaan komponen spesifik dari sumber haram, seperti babi, alkohol, atau enzim dari hewan yang tidak disembelih sesuai syariah. Biomarker dapat berupa protein, DNA, lipid, enzim, atau senyawa kimia lainnya. Penggunaannya sangat penting dalam mengidentifikasi kandungan haram bahkan dalam jumlah yang sangat kecil dan dalam produk olahan kompleks.
- Biomarker Protein
Protein dari sumber haram dapat dikenali karena profil proteinnya unik. Contoh biomarker protein untuk deteksi babi:
- Troponin I – ditemukan dalam otot babi dan bisa dideteksi dengan ELISA atau Western Blot.
- Cytokeratin 19 – tahan panas dan efektif untuk produk olahan.
- Myoglobin – membantu identifikasi spesies hewan.
- Kolagen tipe I – sering digunakan untuk mengetahui asal gelatin, bisa diuji dengan PCR.
Metode seperti ELISA dan Western Blot banyak digunakan untuk deteksi protein karena sensitivitas dan spesifisitasnya tinggi.

Gambar 1 : Protein Untuk Deteksi Halal
- Biomarker DNA
DNA adalah biomarker yang sangat spesifik dan tahan terhadap proses pengolahan makanan seperti pemanasan dan pengeringan. PCR (Polymerase Chain Reaction) dan Real-Time PCR dapat mendeteksi jejak DNA dari babi atau hewan non-halal lainnya, bahkan dalam konsentrasi sangat kecil. Teknik ini sangat efektif untuk produk seperti nugget, sosis, atau gelatin.
- Biomarker Lipid (Lemak)
Setiap spesies hewan memiliki profil asam lemak yang unik. Lemak babi, misalnya, bisa diidentifikasi melalui Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) atau analisis isotop stabil. Teknologi ini membedakan struktur kimia lemak dari berbagai hewan sehingga bisa digunakan untuk membedakan apakah lemak berasal dari babi atau bukan.
- Biomarker Enzimatis
Enzim juga dapat digunakan sebagai biomarker. Enzim berperan dalam proses biokimia dan produksi pangan, sehingga penting untuk memastikan sumbernya halal. Contoh enzim yang digunakan dalam deteksi:
- Lipase – menganalisis komposisi lemak.
- DNAse & RNAse – mendukung identifikasi DNA dari sumber haram.
- Protease – membantu mengurai protein agar dapat dianalisis.
- Alkohol dehydrogenase – mendeteksi keberadaan alkohol.
- ELISA berbasis enzim – mendeteksi protein babi dengan antibodi dan enzim pelapor seperti HRP.

Gambar 2 : Biomareker Enzim Untuk Deteksi Halal
- Biomarker Kimia dan Sensorik
Selain biomolekul, senyawa kimia volatil seperti aroma khas lemak babi juga bisa dianalisis dengan Headspace GC-MS. Teknik ini menangkap senyawa aroma dari produk makanan dan mengidentifikasi kehadiran unsur haram.
Biomarker sensorik, seperti bau dan rasa, meskipun kurang presisi, dapat digunakan sebagai metode skrining awal sebelum pengujian laboratorium lanjutan dilakukan.
Metode Analisis Biomolekuler Pendukung
Teknologi analitik mutakhir sangat membantu dalam deteksi halal:
- PCR dan Real-Time PCR – deteksi DNA dengan sensitivitas tinggi.
- FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy) – mengidentifikasi struktur senyawa organik seperti alkohol dan lemak.
- ELISA – mendeteksi protein secara spesifik menggunakan antibodi.
- LC-MS (Liquid Chromatography-Mass Spectrometry) – mendeteksi senyawa kecil seperti alkohol atau residu bahan haram.
- GC-MS – menganalisis senyawa volatil dan lipid.
Setiap metode ini memiliki kekuatan masing-masing, dan sering kali digunakan secara kombinatif untuk hasil yang lebih akurat.
Kelebihan Deteksi Biomolekuler
Metode biomolekuler tidak hanya memberikan keandalan dalam deteksi bahan haram, tetapi juga cocok untuk berbagai jenis produk, dari makanan mentah hingga produk olahan dan kosmetik. Keunggulannya antara lain:
- Akurasi tinggi dalam identifikasi bahan haram.
- Sensitivitas tinggi, bahkan bisa mendeteksi jejak dalam skala nanogram.
- Reproduksibilitas, artinya hasil bisa diuji ulang dengan hasil serupa.
- Tidak mudah terpengaruh oleh proses pemanasan atau pengolahan makanan.
Tantangan dan Implikasi
Meskipun teknologi biomolekuler sangat menjanjikan, implementasinya di industri membutuhkan infrastruktur laboratorium yang canggih dan sumber daya manusia yang terlatih. Selain itu, sertifikasi halal berbasis hasil laboratorium juga memerlukan koordinasi antara otoritas keagamaan dan ilmuwan.
Kesimpulan
Pendekatan biomolekuler untuk deteksi produk halal merupakan langkah maju dalam menjawab tantangan halal di era globalisasi industri. Penggunaan biomarker—baik protein, DNA, lipid, maupun enzim—disertai teknologi mutakhir seperti PCR, ELISA, LC-MS, dan GC-MS membuat proses deteksi menjadi ilmiah, cepat, dan sangat presisi.
Dengan metode ini, produsen dapat lebih bertanggung jawab dalam menjamin kehalalan produknya, sementara konsumen Muslim memperoleh rasa aman dan keyakinan bahwa produk yang mereka konsumsi sesuai dengan tuntunan syariah. Deteksi biomolekuler menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan prinsip keagamaan dalam membentuk industri halal yang terpercaya dan berstandar tinggi.
Referensi
Akanni, A.A., Adam, A.A., 2023. Muslim Dress Code and Its Health Benefits: Muslim Dress Code and Its Health Benefits. Oguaa Journal of Religion and Human Values 7, 49–61.
Arifah, C.Z., 2022. Konsep Makanan dan Minuman Halalan Thayyiban Dalam Al-Qur’an Perspektif Tafsir Al-Misbah.
Chanifah, N., 2021. Formulasi Etika Bisnis Halal Thayyib Dalam Perspektif Maqashid Syariah Kontemporer Jasser Auda. Arena Hukum 14, 604–625.
Dewi, N.Y.S., Agustina, A., 2021. Halalan toyyiban: Theory and implementation of food products consumers. Indonesian Interdisciplinary Journal of Sharia Economics (IIJSE) 4, 179–189.
Hayati, S.R., Pramesti, D.M.S., 2021. Halal Certification, Brand Image, dan Celebrity Endorse: A Study on Zoya Hijab’s Consumers.
Kurniasari, I., Wijaya, K.F., Rahman, L.K., 2023. Manfaat Kebiasaan Pola Makan Menurut Prinsip Islam Halalan Tayyiban. Journal of Creative Student Research 1, 372–383.
Lubis, A.A., 2024. Konsep Halalan Thayyiban Terhadap Kehidupan Manusia Dalam Tafsir al-Misbah. Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah 6, 21–30.
Nuraini, N., 2018. Halalan thayyiban alternatif qurani untuk hidup sehat. Jurnal Ilmiah Al-MuAshirah 15, 82. https://doi.org/10.22373/jim.v15i1.5460.
Salam, S.A., Salleh, H.M., Muflih, B.K., Jaiyeoba, H.B., 2023. Roles of Islamic Shariah Scholars in the Halal Assurance System. Journal of Halal Science and Technology 2, 40–47.
Sholeh, A.N., 2018. Jaminan Halal Pada Produk Obat: Kajian Fatwa MUI dan Penyerapannya Dalam UU Jaminan Produk Halal. Journal of Islamic Law Studies 1, 70–87.
More Information
☎️ (Admin Halal Center)
📸Instagram: https://www.instagram.com/halalcenteruinmalang/
🌐 Website: http://www.halalcenter.uin-malang.ac.id