MIU Login

CamilanHalal Bayi: Pilihan Cerdas Orang Tua Sejak Suapan Pertama

Oleh : Halimatus Sa`diyah, M.Pd

Sebagai orang tua yang menganut agama Islam, ada tanggung jawab untuk menyajikan makanan yang halal dan baik untuk anak, yaitu makanan yang sesuai dengan ajaran agama dan kesehatan. Camilan untuk bayi adalah salah satu kategori makanan ringan yang harus diperhatikan. Meskipun camilan ini kecil, namun memiliki peran signifikan dalam pertumbuhan dan perkembangan bayi, termasuk untuk pembentukan sel, kecerdasan, dan juga aspek spiritual sejak usia dini.

Hal yang penting untuk ditekankan, bahwa camilan tidak dapat menggantikan Air Susu Ibu (ASI). ASI tetap menjadi sumber nutrisi yang paling baik, terutama untuk bayi berusia 0–6 bulan, dan sangat disarankan untuk dilanjutkan hingga usia dua tahun. Camilan hanya boleh diberikan setelah bayi mencapai usia enam bulan, sebagai makanan pendukung ASI. Meskipun berfungsi sebagai pelengkap dan pendamping, camilan harus diberikan dengan tetap memperhatikan kebutuhan gizi, usia, dan kesiapan sistem pencernaan bayi.

Dari aspek kesehatan, banyak camilan bayi yang tersedia di pasaran mengandung bahan tambahan seperti zat perasa sintetis, emulsifier, atau pewarna buatan yang asal-usulnya belum tentu halal. Istilah-istilah tersebut sebaiknya diperhatikan karena dapat berasal dari sumber hewani yang tidak halal. Sebuah studi dari International Journal of Pediatrics and Adolescent Medicine (2022) mengungkapkan bahwa bayi yang secara rutin mengonsumsi makanan dengan tingkat aditif tinggi cenderung mengalami masalah perilaku dan reaksi imun yang berlebihan. Hal ini mengingatkan para orang tua untuk tidak hanya memperhatikan kemasan atau iklan produk, tetapi juga untuk memverifikasi sertifikat halal resmi yang dikeluarkan oleh MUI. Produk yang diimpor mungkin dilengkapi dengan sertifikat dari negara asalnya, tetapi tidak semua diakui secara hukum di Indonesia.

Untuk mengurangi potensi risiko, membuat camilan bayi sendiri adalah pilihan yang bijak. Selain lebih hemat, orang tua juga dapat mengendalikan bahan dan cara pembuatan. Contoh camilan rumahan yang mudah dibuat dan sehat adalah pisang kukus yang dihaluskan, bubur oat dengan apel, kue oat yang dibuat di rumah, serta ubi kukus yang cocok sebagai finger food. Apabila memilih produk siap saji, sebaiknya pilihlah merek yang terpercaya dan sudah memiliki sertifikasi halal.

Pada fase awal kehidupan, sistem kekebalan dan pencernaan bayi masih sedang dalam proses perkembangan dan pematangan. Oleh sebab itu, apa yang dikonsumsi akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan fisik, mental, dan spiritual di masa mendatang. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari (makanan) yang baik-baik yang Kami rezekikan kepadamu…” (QS. Al-Baqarah: 172). Ayat ini tidak hanya ditujukan untuk orang dewasa, tetapi juga menjadi pedoman dalam memberikan nutrisi bagi anak-anak. Halal bukan sekadar tanda yang mengindikasikan tidak mengandung babi atau alkohol, melainkan mencakup seluruh tahapan, yaitu asal bahan, teknik pengolahan, hingga cara distribusi dan penyimpanan. Makanan yang halal harus bebas dari najis, zat berbahaya, dan tidak boleh diperoleh melalui cara yang meragukan atau bertentangan dengan syariat.

Dengan demikian, memberikan camilan halal kepada anak tidak hanya berkaitan dengan aspek nutrisi, tetapi juga mendidik iman sejak usia dini. Dalam Al-Quran Surat Al-Mu`minun ayat 51 Allah SWT berfirman: “Wahai para Rasul! Makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang shalih…”. Ayat ini mengindikasikan hubungan antara makanan halal dan amal yang baik. Anak yang dibiasakan mengonsumsi makanan halal akan berkembang dengan kesadaran spiritual dan sikap selektif saat memilih makanan.

Nabi Muhammad ﷺ berkata dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, “Sesungguhnya seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh… makanannya haram, minumannya haram… maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” (HR. Muslim: 1015). Jika makanan yang terlarang dapat menghalangi doa bagi orang dewasa, dampaknya akan jauh lebih signifikan bagi bayi yang masih suci. Memberikan makanan yang halal adalah cara untuk melindungi fitrah dan kesucian anak-anak sejak awal. Jadi, keberadaan kehalalan makanan, termasuk camilan bagi bayi berkaitan erat dengan dimensi kesehatan dan spiritual. Menjaganya sejak suapan pertama akan menjadi pondasi kesehatan dan keimanan anak tercinta.

Wallahua`lam bis showab.

Refrensi

QS. Al-Baqarah: 172

Q.S. Al-Mu`minun: 51

International Journal of Pediatrics and Adolescent Medicine. (2022). International Journal of Pediatrics and Adolescent Medicine, 9(4), 185–226. Elsevier B.V.

Muslim. (n.d.). Shahih Muslim, no. 1015. (Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.).

👉 More Information
📞 (Admin Halal Center) 085174218053
📸 Instagram: https://www.instagram.com/halalcenteruinmalang/
🌐 Website: halalcenter.uin-malang.ac.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait