Dibuat oleh: A. Ghanaim Fasya, M.Si
Di era sekarang, label halal bukan sekadar pelengkap di kemasan makanan. Bagi umat Muslim, halal adalah prinsip hidup—bukan cuma tentang boleh atau tidak dimakan, tapi juga soal thayyib, artinya bersih, sehat, dan berkualitas. Salah satu titik krusial yang menentukan kehalalan produk hewani adalah proses penyembelihan. Dan di sinilah peran Juru Sembelih Halal (JULEHA) menjadi sangat penting.
Di balik sepotong ayam goreng yang kita nikmati, ada proses panjang yang melibatkan keahlian, niat ibadah, dan kepatuhan terhadap syariat. Mulai tahun 2025, ketentuan tentang Juru Sembelih Halal semakin diperketat dan disempurnakan. Tujuannya jelas: memastikan setiap produk daging yang diperoleh dari rumah potong betul-betul halal dan thayyib, dari hulu sampai hilir.
Siapa Itu Juru Sembelih Halal (JULEHA)?
JULEHA bukan sekadar orang yang bisa menyembelih hewan. Ia adalah tenaga profesional yang telah mengikuti pelatihan, tersertifikasi oleh lembaga berwenang, dan tunduk pada kode etik serta pedoman teknis yang ketat. Di dalam ketentuan terbaru, juru sembelih wajib:
- Seorang Muslim yang baligh, berakal, dan memahami hukum syariat tentang penyembelihan.
- Menyembelih dengan membaca basmalah, menggunakan pisau yang tajam, serta memastikan hewan tidak mati sebelum disembelih.
- Memahami prinsip animal welfare sesuai ajaran Islam (Syari’at) dan standar keserawanan hewan (Ihsan).
Mengapa Ketentuan Ini Penting?
Karena penyembelihan bukan sekadar rutinitas kerja, melainkan ibadah. Di rumah potong, prosesnya berlangsung cepat dan dalam volume besar. Tanpa sistem yang tertib, risiko kesalahan sangat besar. Salah sedikit saja—ayam tidak mati karena disembelih tapi karena setrum berlebihan, atau penyembelih lupa membaca basmalah—maka kehalalan ayam bisa jadi tidak sah.
Dengan adanya ketentuan JULEHA 2025, semua proses itu menjadi lebih tertata dan bertanggung jawab. Setiap penyembelih diwajibkan tidak hanya tahu teknis, tapi juga sadar nilai-nilai agama dalam pekerjaannya.
Hasil Studi Lapangan: Masih Banyak PR
Studi yang dilakukan oleh peneliti dari Universiti Malaya, Malaysia, menunjukkan bahwa meskipun banyak rumah potong ayam sudah bersertifikasi halal, pelaksanaannya masih penuh tantangan. Ada juru sembelih yang belum terlatih dengan baik. Ada pula rumah potong yang belum menyediakan fasilitas penyembelihan yang sesuai standar.
Salah satu temuan penting adalah adanya ketidaksesuaian antara prosedur tertulis dan praktik lapangan. Di atas kertas, semua tampak sempurna. Tapi saat diamati langsung, banyak yang melenceng dari standar halal yang seharusnya. Misalnya:
- Penyembelih bukan Muslim, atau belum bersertifikasi JULEHA.
- Pisau tumpul dan tidak dibersihkan secara berkala.
- Hewan lain melihat hewan lain disembelih
- Proses stunning (pemingsanan ayam) dilakukan dengan cara yang membahayakan nyawa hewan sebelum sempat disembelih.
- Limbah belum melalui proses pengolahan yang sesuai standart sebelum ke lingkungan
JULEHA Bukan Sekadar Label Sertifikasi
Ketentuan JULEHA 2025 juga menekankan aspek pemahaman spiritual dalam proses penyembelihan. Para juru sembelih dilatih untuk memahami bahwa pekerjaan mereka adalah amanah, bukan sekadar cari nafkah. Proses penyembelihan adalah bagian dari ibadah, bukan rutinitas mekanik.
Setiap juru sembelih diwajibkan untuk memperbaharui sertifikasi secara berkala. Selain itu, ada sistem pengawasan internal yang melibatkan audit berkala, observasi lapangan, dan pelaporan pelanggaran prosedur. Jika ditemukan pelanggaran, sertifikat bisa dicabut.
Dampak Jika Ketentuan JULEHA Dilanggar
Apa yang terjadi jika ketentuan ini tidak dijalankan dengan baik? Bukan cuma soal hukum halal-haram. Tapi juga:
- Kehilangan kepercayaan konsumen. Sekali masyarakat tahu ada rumah potong yang tidak menjalankan ketentuan halal dengan benar, citra merek langsung rusak.
- Kerugian ekonomi. Produk bisa ditarik dari pasaran, diekspor ditolak, dan pasar Muslim internasional kehilangan kepercayaan.
- Dosa moral dan sosial. Karena menyembelih tanpa prosedur yang sah bisa berarti menjual makanan yang tidak halal kepada orang Muslim lain.
Peran Konsumen: Jangan Cuma Percaya Logo
Sebagai konsumen, kita juga punya peran penting. Jangan hanya percaya karena ada logo halal. Kita bisa:
- Mengecek nama rumah potong atau produsen di daftar sertifikasi resmi.
- Mendukung produsen yang transparan dalam proses produksinya.
- Mendorong kesadaran di lingkungan kita tentang pentingnya penyembelihan halal yang benar.
Penutup: Halal Itu Komitmen Kolektif
Tulisan ini ingin mengingatkan kita semua bahwa halal bukan cuma urusan logo dan label. Di balik itu, ada juru sembelih yang bekerja dengan niat ibadah, ada aturan yang harus ditegakkan, dan ada kepercayaan umat yang dipertaruhkan.
Dengan adanya ketentuan JULEHA 2025, kita sedang melangkah lebih jauh menuju sistem jaminan halal yang kokoh, profesional, dan terpercaya. Rumah potong ayam yang taat aturan bukan hanya menghasilkan daging halal, tapi juga menunjukkan bahwa industri ini peduli dengan nilai dan kualitas.
Dan untuk kita semua, mari jaga rantai halal ini dari ujung ke ujung—karena halal bukan hanya untuk dimakan, tapi untuk diyakini, diamalkan, dan diperjuangkan.
JULEHA adalah mata pisau kehalalan daging sembelihan yang harus “tajam”.
More Information
☎️ (Admin Halal Center)
📸Instagram: https://www.instagram.com/halalcenteruinmalang/
🌐 Website: http://www.halalcenter.uin-malang.ac.id