MIU Login

Korean Food, Gen-Z Jatim, dan Dilema Halal: Label Apa Kesadaran, Sing Penting yang Mana?

Dibuat oleh Dr. Tri Kustono Adi, M.Si

Sebagai orang Jawa yang doyan makan, saya sangat paham rasanya penasaran dan ingin mencoba makanan baru. Apalagi sekarang makanan Korea sedang sangat digemari. Di mana-mana, mulai dari restoran mewah, kafe Instagramable, sampai warung kaki lima dan pasar malam, semua menawarkan menu khas Korea seperti ramyeon, tteokbokki, kimchi, hingga corndog lumer keju. Belum lagi pengaruh drama Korea dan variety show yang hampir selalu menyelipkan adegan makan bersama yang menggugah selera. Nggak heran kalau banyak anak muda, khususnya Gen-Z, tergoda buat mencoba langsung makanan yang sering mereka lihat di layar.

Namun di balik rasa penasaran dan tren yang sedang naik daun, ada satu pertanyaan penting yang sering muncul di kalangan Muslim: makanan Korea ini halal nggak, sih? Pertanyaan ini bukan tanpa alasan. Indonesia memang negara mayoritas Muslim, jadi wajar kalau kehalalan suatu produk jadi pertimbangan utama. Sayangnya, tidak semua produk makanan Korea yang masuk ke Indonesia punya label halal yang jelas. Beberapa masih menggunakan tulisan asing, dan banyak juga yang belum tersertifikasi oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia). Di sinilah muncul dilema: apakah kita cukup percaya pada label halal di kemasan, atau perlu kesadaran lebih dalam untuk memastikan kehalalannya?

Menurut penelitian dari Cahyati dan Fikriyah tahun 2024 yang fokus pada Gen-Z Muslim di Jawa Timur, ternyata label halal saja tidak cukup jadi penentu utama keputusan beli makanan Korea. Anak-anak muda sekarang ternyata lebih mempertimbangkan apa yang disebut sebagai kesadaran halal, atau halal awareness. Artinya, meskipun suatu produk sudah ada label halalnya, mereka tetap ingin tahu bahan-bahan apa saja yang digunakan, bagaimana proses pembuatannya, dan apakah tempat produksinya benar-benar bersih dari kontaminasi bahan haram. Mereka lebih percaya pada informasi yang bisa mereka gali sendiri, baik lewat internet, pengalaman pribadi, maupun bertanya langsung kepada penjual. Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda kita sudah mulai kritis dan cerdas dalam memilih makanan, terutama yang berasal dari luar negeri.

Kesadaran halal ini jadi faktor penting di tengah derasnya arus tren makanan Korea. Karena nggak bisa dipungkiri, Gen-Z adalah generasi yang paling cepat mengikuti tren. Tapi justru karena mereka aktif di media sosial dan terbiasa mencari informasi, mereka juga lebih terbuka untuk menggali lebih dalam tentang makanan yang mereka konsumsi. Misalnya, begitu ada makanan Korea baru yang viral di TikTok, mereka nggak cuma tanya, “Ini enak nggak ya?”, tapi juga langsung browsing, “Ini halal nggak ya?” Mereka membaca komposisi bahan, nonton review dari influencer Muslim, sampai nge-DM langsung sayan produsen atau penjual untuk tanya soal bahan dan proses produksi. Inilah bentuk nyata dari kesadaran halal yang makin tumbuh di kalangan anak muda.

Contoh paling nyata yang pernah terjadi adalah kasus mie instan Samyang dari Korea. Produk ini dulu sempat sangat booming di Indonesia. Namun, beberapa varian ternyata mengandung babi dan belum memiliki sertifikat halal dari MUI. Begitu informasi ini menyebar, banyak toko langsung menarik produk dari etalase, dan para konsumen kecewa berat. Kasus ini jadi pelajaran penting bahwa hanya mengandalkan label di kemasan, apalagi jika tidak dikeluarkan lembaga resmi seperti MUI, bisa berisiko. Label bisa saja menyesatkan kalau tidak dicek lebih lanjut. Maka dari itu, meskipun label halal itu penting, kita tetap harus punya sikap waspada dan rasa ingin tahu untuk memastikan semuanya benar-benar halal.

Fenomena lain yang menarik adalah menjamurnya jajanan ala Korea di pasar malam, food bazaar, atau warung-warung kecil. Anak-anak muda senang mencoba tteokbokki lokal, ramyeon versi kaki lima, atau corndog isi keju dengan harga terjangkau. Tapi lagi-lagi muncul pertanyaan: halal nggak sih? Nah, inilah tantangan baru. Banyak dari penjual lokal ini belum mengurus sertifikasi halal, padahal konsumennya mayoritas Muslim. Di sinilah pentingnya kesadaran halal tadi. Kita sebagai konsumen bisa tanya langsung ke penjual soal bahan yang dipakai, apakah ada kandungan babi, alkohol, atau bahan lain yang meragukan. Kalau masih ragu, mending cari alternatif yang jelas-jelas aman. Nggak ada salahnya bertanya, daripada menyesal belakangan.

Melihat fenomena ini, jadi wajar kalau muncul perdebatan: mana yang lebih penting, label halal atau kesadaran halal? Jawabannya sebenarnya bukan memilih salah satu, tapi punya keduanya sekaligus. Label halal bisa jadi petunjuk awal, apalagi kalau berasal dari lembaga resmi seperti MUI. Tapi kesadaran halal harus tetap ada, supaya kita nggak mudah tertipu oleh label palsu atau kemasan yang kelihatan meyakinkan padahal belum jelas isinya. Kalau diibaratkan, label halal itu seperti rambu lalu lintas, tapi sopirnya tetap kita sendiri. Kalau kita ngerti aturannya dan punya kesadaran saat menyetir, kita nggak akan nyasar atau masuk jalan berbahaya.

Di zaman sekarang, jadi konsumen Muslim itu memang harus pintar. Kita harus bisa membedakan mana yang cuma ikut-ikutan tren, dan mana yang benar-benar layak dikonsumsi. Apalagi buat Gen-Z yang hidup di tengah gempuran informasi dan budaya asing, penting banget untuk tetap pegang prinsip. Nggak salah kok suka budaya Korea, suka nonton drama, atau nyoba makanannya. Tapi kita juga punya tanggung jawab untuk menjaga apa yang masuk ke tubuh kita. Karena makanan yang halal bukan cuma soal aturan agama, tapi juga soal keberkahan, kesehatan, dan ketenangan batin.

Akhirnya, makan enak itu boleh, tapi pastikan dulu halal atau tidaknya. Ikut tren itu seru, tapi jangan sampai mengorbankan prinsip. Boleh banget nyobain Korean Food, asal tahu batasnya dan tetap kritis dalam memilih. Dengan kesadaran halal yang tinggi, kita bisa tetap keren, tetap update, dan tetap aman. Jadi, yuk jadi Gen-Z yang cerdas, melek halal, dan tetap bangga dengan pilihan yang baik untuk diri sendiri dan keluarga.

Catatan: Tulisan ini diadaptasi dari penelitian Cahyati & Fikriyah (2024) tentang pengaruh label halal dan kesadaran halal terhadap keputusan membeli Korean Food pada Gen-Z Muslim di Jawa Timur. 

 

More Information

☎️ (Admin Halal Center)

http://wa.me/6285174218053

📸Instagram: https://www.instagram.com/halalcenteruinmalang/

🌐 Website: http://www.halalcenter.uin-malang.ac.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait